Menulis Rumusan Masalah dalam Proposal Penelitian

· Qualitative Approaches
Authors

Muzayin Nazaruddin

Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Perumusan masalah, atau proses merumuskan masalah, sangat penting dalam proposal penelitian. Terdapat tiga pokok penting dalam sebuah proposal penelitian:

  1. Pokok tentang masalah penelitian.
  2. Pokok tentang ‘state of the art’ atau posisi ilmiah penelitian.
  3. Pokok tentang metode penelitian.

Ketiga pokok ini dijelaskan dalam bagian yang berbeda-beda. Pokok tentang masalah penelitian dijelaskan dalam: Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian. Pokok tentang ‘state of the art’ atau posisi ilmiah penelitian dijelaskan dalam Bab Tinjauan Pustaka. Pokok tentang metode dijelaskan dalam Bab Metode Penelitian. Tulisan singkat ini akan membahas pokok pertama, tentang masalah penelitian.

Dalam pokok pertama ini (masalah penelitian), hal paling utama yang harus dijelaskan adalah bagaimana alur pikir dan argumentasi peneliti hingga bisa menemukan atau merumuskan masalah penelitian tertentu. Asumsi dasarnya, tidak mungkin masalah penelitian lahir dan ditemukan begitu saja, pasti ada konteks yang menyertainya.

Terdapat beberapa bab mengenai masalah penelitian:

  1. Latar Belakang
  2. Perumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Manfaat Penelitian

Keempat bab tersebut bergerak dari konteks umum yang luas, menuju hal yang spesifik (rumusan masalah dan tujuan penelitian), kembali kepada konteks umum berupa manfaat penelitian secara luas. Jika kita deskripsikan dalam bentuk gambar, lebih kurang seperti ini: 

 

 

1.   Latar Belakang

Latar belakang berisi tiga hal: deksripsi fenomena yang akan dikaji, urgensi serta kelayakan meneliti fenomena tersebut. Pada prinsipnya, ketiga hal tersebut harus ada dalam latar belakang. Memang, biasanya ketiganya dijelaskan secara urut, mulai dari deskripsi fenomena, urgensi, lalu kelayakan. Namun, sebenarnya tidak harus dengan urutan tersebut, yang penting adalah alur penulisan yang sistematis dan nyaman dibaca.

Perlu ditambahkan, penjelasan ketiga hal tersebut menyatu dalam Bab Latar Belakang, tidak perlu dibuat subbab fenomena, subbab urgensi, ataupun subbab kelayakan.

a.     Fenomena yang akan diteliti

Sebuah penelitian dilakukan dalam rangka menjawab keingintahuan peneliti untuk mengungkapkan suatu gejala atau fenomena yang belum terjelaskan, atau suatu fenomena yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Latar belakang menjelaskan fenomena tersebut. Dengan kata lain, peneliti harus mampu menjelaskan fenomena yang akan diteliti serta konteks yang melingkupinya, misalnya konteks sosial, budaya, ekonomi atau sejarah. Tentu saja, tidak semua konteks perlu dipaparkan, hanya konteks-konteks yang relevan dengan masalah penelitian saja yang dijelaskan.

b.     Urgensi meneliti fenomena tersebut

Penelitian hanya bisa dilakukan terhadap fenomena yang penting, dalam arti bagi masyarakat luas, tidak hanya penting secara personal bagi peneliti. Dalam bagian ini, peneliti harus mampu mengungkapkan mengapa fenomena tersebut penting untuk dikaji.

c.   Kelayakan meneliti fenomena tersebut

Setelah mengungkap urgensi penelitian, peneliti harus mampu menjelaskan bahwa untuk mengungkap fenomena yang akan dikaji memang membutuhkan langkah-langkah yang runtut, sistematis dan logis. Singkatnya, untuk menjelaskan fenomena tersebut secara meyakinkan harus dilakukan penelitian.

Kelemahan umum yang harus dihindari dalam penulisan latar belakang ini adalah: 1). Penjelasan yang terlalu melebar dan tidak relevan, 2). Penjelasan yang tidak sistematis, seringkali berputar-putar atau banyak pengulangan yang tidak perlu.

2.    Perumusan Masalah

Bagian ini menguraikan fokus penelitian. Biasanya disajikan dengan alur berikut ini:

a.   Ringkasan fenomena

Peneliti mengungkapkan kembali fenomena yang akan dikaji secara ringkas. Jadi, semacam ringkasan dari latar belakang, cukup satu atau dua paragraf. Penjelasan ini berfungsi sebagai penghubung antara Bab Latar Belakang dengan Bab Perumusan Masalah, sekaligus sebagai pengantar untuk memasuki fokus penelitian.

b.   Fokus penelitian

Peneliti tidak mungkin mengkaji sebuah fenomena secara menyeluruh, terkecuali dalam penelitian tertentu yang advance atau dilakukan oleh sebuah tim. Maka, peneliti harus menentukan fokus penelitian, sisi atau dimensi apa yang akan diteliti dari fenomena yang telah dijelaskan. Jika diperlukan, peneliti bisa menjelaskan asumsi dan lingkup yang menjadi batasan dari fokus penelitian.

c.   Pembatasan-pembatasan objek kajian

Penelitian pasti mempunyai objek kajian yang spesifik. Penentuan objek kajian ini tidak bisa semena-mena, sebaliknya harus berdasar argumentasi yang kuat.

Dalam penelitian lapangan, baik kuantitatif maupun kualitatif, penelitian pasti dilakukan terhadap kelompok masyarakat tertentu (lokasi penelitan). Biasanya, subjek dan lokasi penelitian sudah diungkap sejak awal di Bab Latar Belakang, bagian ini menegaskan subjek atau lokasi penelitian dan argumentasi mengapa memilih subjek atau lokasi tersebut.

Dalam penelitian teks, bagian ini menjelaskan teks atau media yang akan dianalisis serta argumentasinya. Teks atau media yang akan dianalisis bisa saja sejak awal sudah disinggung di Bab Latar Belakang, namun bagian ini menegaskan serta menyajikan argumentasi mengapa memilih teks atau media tersebut. Jika yang dianalisis adalah isi media, pasti ada pembatasan kategori isi media yang akan dianalisis (misal: tajuk rencana, headline, cover atau lainnya), maka peneliti harus menjelaskan hal tersebut berikut argumentasinya. Jika ada pembatasan isu-isu khusus yang akan dianalisis, peneliti juga harus menjelaskan secara eksplisit berikut argumentasinya.

d.   Rumusan masalah

Dalam setiap proposal penelitian pasti ada rumusan masalah yang tegas (research problem statement), biasanya dinyatakan dengan sebuah kalimat tanya. Walaupun, sebenarnya bisa juga dinyatakan dengan kalimat berita.

3.    Tujuan Penelitian

Dalam bab ini, peneliti memberikan pernyataan singkat dan jelas mengenai tujuan penelitian. Sebuah penelitian (ilmu sosial) dapat bertujuan:

    1. Menguraikan atau mendeskripsikan suatu fenomena.
    2. Membuktikan suatu hal.
    3. Membuat suatu prototipe/model sosial.

Tujuan penelitian harus konsisten dengan rumusan masalah. Biasanya, tujuan penelitian berupa pengubahan bentuk kalimat dari rumusan masalah. Jika rumusan masalah dinyatakan dengan kalimat tanya, maka tujuan penelitian mengubahnya menjadi kalimat berita (pernyataan).

4.    Manfaat Penelitian

Dalam bagian ini, peneliti harus menguraikan manfaat atau kontribusi yang bisa diberikan dari penelitian yang dilakukan. Manfaat ini mencakup dua hal:

    1. Manfaat teoritis, artinya manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan ataupun pengembangan metode keilmuan tertentu.
    2. Manfaat praktis, artinya manfaat bagi lembaga atau masyarakat yang diteliti, atau bagi para pengambil kebijakan yang terkait. Manfaat bisa berupa pemecahan masalah sosial kemasyarakatan atau pengembangan kelembagaan.

Menulis manfaat sebenarnya cukup mudah jika memang peneliti mampu merumuskan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan. Pertanyaannya, siapa yang bisa mengambil manfaat atau keuntungan dari penelitian yang dilakukan? Namun, terdapat sebuah kelemahan umum yang perlu dihindari: manfaat yang dijelaskan sangat umum, tidak spesifik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: