Beragama Ala Televisi

· Television Studies
Authors


Muzayin Nazaruddin

Staf Pengajar Ilmu Komunikasi UII

Artikel ini pernah dimuat di Harian Bernas Jogja, 27 September 2007

Dalam sebuah kultum selepas tarawih, penulis memberanikan diri keluar dari ‘standar konservatif’ ceramah yang berkisar tentang berlipat-lipatnya pahala di bulan Ramadhan, dengan mengangkat tema ‘literasi televisi’. Tema yang aneh bagi umat – para jamaah tarawih – ini penulis mulai dengan sebuah pertanyaan, “Televisi berhubungan tidak dengan puasa kita?” Dengan kompak, jamaah menjawab, “Tidak.” Pertanyaan penulis lanjutkan, “Bagaimana acara-acara televisi di bulan Ramadhan?” Riuh rendah jawaban terlontar, tetapi ternyata seragam, kira-kira begini: “Acara televisi di bulan Ramadhan sangat bagus, banyak yang menghibur, Islami dan penuh muatan dakwah.”

Kultum dengan pendekatan dialogis ini penulis lanjutkan dengan pertanyaan, “Kok bisa Islami?” Jawabannya bermacam-macam, tapi tetap serupa: “Islami karena artisnya mengenakan jilbab, ada ustad yang ditampilkan, infotainmentnya tentang puasa para artis, tidak lagi tentang perceraian, banyak sinetron religius, banyak ungkapan-ungkapan Islami, …”

Adakah yang salah dengan jawaban-jawaban itu? Jelas ada, bahkan penulis menyimpulkan bahwa tingkat literasi media masyarakat kita masih sangat rendah.

Barangkali teramat generalis dan gegabah menarik kesimpulan umum dari pengalaman personal tersebut. Artinya, bisa jadi jika pertanyaan serupa dilontarkan kepada audiens berbeda akan memunculkan jawaban berbeda. Bisa jadi golongan masyarakat lain akan menghadirkan jawaban yang lebih kritis atas pertanyaan tersebut.

Alih-alih mendebatkan ilmiah atau tidak menarik generalisasi dari kasus tersebut, akan lebih produktif jika argumentasi dibangun dengan observasi atas ’content’ tayangan-tayangan Ramadhan di televisi.

Secara kasat mata, acara-acara yang mengusung muatan ”Islami” memang memenuhi jam tayang hampir seluruh stasiun televisi swasta nasional di bulan Ramadhan. Mekanismenya dua macam: 1) Memproduksi program khusus Ramadhan seperti beberapa sinetron religi, siraman rohani, serta komedi untuk prime time sahur. 2) Menyisipkan muatan Ramadhan dalam program-program rutin, seperti yang dilakukan infotainment dengan menayangkan bagaimana artis menjalani Ramadhan.

Acara-acara tersebut, dengan tingkat literasi media yang minim, akan ditangkap sebagai komitmen televisi terhadap dakwah Islam. Dengan model tangkapan seperti itu, televisi akan dipandang ’religius’, muatan-muatan acaranya sesuai dengan tuntunan religius Islam. Jelas, televisi meraup keuntungan karena brandingnya akan positif di mata khalayak.

Branding ’religius’ ini sebenarnya mengusung ’pesan-pesan tersembunyi’ yang justru membodohi masyarakat. Kesimpulan ini bisa ditemukan ketika kita lebih cermat menonton televisi.

Sinetron religi khusus Ramadhan masih juga tidak masuk akal dan anti realitas. Temanya berkisar konflik antara tokoh baik dengan tokoh jahat. Pola pikirnya masih naif, berpijak pada idealisasi hitam-putih yang ngawur, idealisasi kebaikan (baik sekali, tanpa cacat) ataupun sebaliknya idealisasi keburukan (buruk sekali, tanpa ada sisi baiknya). Proses perubahan, menjadi baik dari kondisi buruk atau sebaliknya, tidak pernah ada dalam sinetron-sinetron Ramadhan. Hal ini secara halus akan tertanam dalam alam bawah sadar penonton, mengarahkan pola pikir atas realitas sosial: seseorang yang jahat seterusnya akan jahat, seorang ’alim’ seterusnya akan sempurna.

Kalaupun terdapat kisah pertobatan dalam sinetron, akan dibungkus secara dramatis, biasanya di akhir episode si tokoh antagonis ’tiba-tiba’ – tanpa proses panjang – bertobat dan menjadi baik (juga tanpa cacat). Proses pergulatan batin dan perubahan evolusioner – yang pasti dialami setiap orang – ditiadakan, seakan bertobat adalah sesuatu yang mudah dan sekali jadi.

Pola pikir ’tobat’ sebagai sesuatu yang gampang dan sepele ini pun terlihat dari infotainment. Tayangan tidak jauh dari bagaimana para artis menjalani Ramadhan: ramai-ramai berjilbab, ikut pengajian, banyak beramal, dan seterusnya. Ekspose perilaku artis di bulan Ramadhan ini sebenarnya tengah menyampaikan pesan: artis-artis itu religius (tegasnya: bertaqwa). Maka, bertaqwa (atau tobat) itu cukup di bulan Ramadhan saja.

Efeknya tidak kasat mata, tapi jangka panjang: pola pikir isntant, bahkan untuk sesuatu yang rumit dan sakral sekalipun – seperti tobat – kita meng-instant-kannya.

Efek lebih fundamental, masyarakat akan semakin menyikapi agama secara ’simbolik-ritualis”. Seorang artis bertaqwa jika dia berjilbab, berbaju koko, atau banyak ikut pengajian, cukup di bulan Ramadhan saja. Acara televisi dikatakan religius jika ada ustad ditampilkan, ayat-ayat Al Quran dilantunkan, pemerannya berjilbab, ceritanya tentang hal-hal ’mistik’. Kalaupun setelah Ramadhan televisi dan para artis kembali ke kesibukan semula, bincang-bincang yang lain, pakaian yang lain, peran yang lain, tidak masalah karena di bulan Ramadhan mereka sudah bertaqwa.

Belum lagi ketika kita membahas acara-acara komedi yang memenuhi prime time sahur. Lelucon yang disajikan dari tahun ke tahun sama, slapstik dan kasar. Pertama, menjadikan kekurangan fisik sebagai bahan cemooh. Aksi Thukul tidak jauh-jauh dari memonyong-monyongkan bibir di depan kamera, pelawak lain bertingkah seperti kera, seperti orang tuli, atau hal-hal konyol lainnya. Kedua, menghina martabat perempuan dengan cara seorang aktor yang berperilaku dan berpenampilan seperti perempuan dan dijadikan bahan lelucon, mulai dari Tessy yang menjijikkan hingga Olga yang sama sekali tidak lucu. Ketiga, bahan lawakan berkisar tentang seks dan kekerasan. Tessy terkenal sebagai pelawak yang nakal, yang selalu berusaha mencari kesempatan melakukan tindakan yang – sebenarnya – tergolong pelecehan seksual, namun justru dipertontonkan kepada publik sebagai lelucon. Tidak perlu berpanjang lebar, jelas acara-acara komedi tersebut sama sekali tidak mendidik, sebaliknya membodohi masyarakat. Komedi-komedi itu mengarahkan selera humor masyarakat yang hanya mengeskploitasi selera rendah manusia.

Televisi telah menjadi ritual umat Islam ketika Ramadhan (seperti halnya berbuka, sahur, dan tarawih). Menunggu berbuka, mononton televisi. Selepas tarawih, menonton televisi. Sewaktu sahur, mononton televisi.

Tidak hanya menjadi ritual, televisi juga mengajarkan ritualisme: bertaqwa itu instant, cukup dengan menampilkan simbol-simbol tertentu: jilbab, baju koko, rajin mengikuti pengajian, atau simbol-simbol lainnya. Lebih lugas: bertaqwa itu cukup di bulan Ramadhan saja. Selepas Ramadhan: kembalilah ke dunia dan keseharian kita masing-masing, persis seperti televisi dan para artis kembali kepada wajah asli mereka.

Padahal, dengan tingkat literasi yang rendah, masyarakat akan menilai bahwa televisi religius dan Islami, masyarakat akan menangkap tayangan-tayangan itu sebagai bentuk dakwah atau penyampai risalah Islam. Sementara, ’risalah Islam’ yang tengah disampaikan sebenarnya mengatakan: beragama itu cukup secara instant, menampilkan simbol-simbol tertentu, menjalani ritual tertentu.

Maka, jangan kaget jika seterusnya perilaku umat tidak akan berubah: ketika Ramadhan masjid penuh dengan jamaah tarawih, setelah itu kembali sepi seperti hari-hari biasanya. Puasa adalah sederhana: menunda waktu makan dari subuh hingga maghrib, selama satu bulan. Maka, yang terlupakan adalah pesan-pesan fundamental Ramadhan: empati sosial, keadilan, pembebasan dari ketertindasan material maupun immaterial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: